PENGELOLAAN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE MANAGEMENT)
BERBASIS E-LEARNING
- PENGERTIAN ELEARNING
E-learning merupakan suatu bentuk pembelajaran yang menggunakan media elektronik
(‘e’) sebagai pendukung proses proses mengajar maupun belajar (teaching and
learning) yang menggabungkan seluruh aktivitas belajar baik itu individual
maupun grup secara sinkron atau tidak. “e-learning would incorporate all
educational activities that are carried out by individuals or groups working
online or offline, and synchronously or asynchronously via networked or
standalone computers and other electronic devices” (E-learning: A Guidebook
of Principles, Procedures and Practices, 2nd Revised Edition,
2006 , page 1) . Media elektronik yang dimaksud disini adalah
media yang berbasiskan teknologi komputerisasi.
Berikut ini adalah
beberapa bentuk aktivitas suatu e-learning dilakukan ,
(E-learning: A Guidebook of Principles, Procedures and Practices, 2nd Revised
Edition, 2006 , page 1 & 2) :
a.
Individualized
self-paced e-learning online, merupakan situasi
dimana seorang individu melakukan proses belajar dengan mengakses sumber materi
(content resources) melalui intranet maupun internet.
Tipikal dari bentuk aktivitas pertama ini merupakan suatu contoh dimana seorang
pelajar melakukan proses belajar melalui media internet ataupun menggunakan internet
sebagai sumber data/materi (resources).
b.
Individualized
self-paced e-learning offline, situasi dimana
seorang individu melakukan aktivitas belajas dengan mengakses database dari
materi yang dituju maupun suatu pake data materi belajar secara offline (tidak
terhubung ke media intranet ataupun internet). Tipikal bentuk aktivitas ini
adalah belajara dengan menggunakan materi yang sudah tersimpan dalam
media hard disk, cd/dvd, dll.
c.
Group-based e-learning
synchronously , mengarah pada situasi dimana
suatu grup yang terdiri dari para pelajar dan bekerjsama dalam proses belajar
secara real-time melalui media intranet maupun internet. Dalam
tipikal ini, juga termasuk aktivitas text-based conferencing maupun
satu ataupun 2 arah komunikasi dengan menggunakan audio & video
conferencing. Contoh dari aktivitas ini adalah dua orang pelajar atau lebih
yang melakukan kolaborasi melalui real-time chat atau audio
& video conferencing.
Group-based
e-learning asynchronously ,
mengarah pada situasi dimana para pelajar yang melakukan komunikasi dan
kolaborasi proses belajar tetapi aktivitas proses belajar tidak dilakukan
secara real-time atau adanya jeda waktu (time-delay).
Salah satu contoh tipikal dari aktivitas proses belajar ini adalah dengan
menggunakan mailing list sebagai alat berkomunikasi dan
berkolaborasi.
- TIPE PEMBELAJARAN PADA E-LEARNING
E-learning
membantu knowledge untuk diakuisisi oleh setiap individu
secara computer-based. Setiap individu dapat melakukan proses
belajar baik secara online maupun offline. Offline
learning berhubungan dengan menggunakan computer-based melalui
media, seperti : usbflashdisk, CD/DVD ROM, dokumen offline,
dan lainnya. Kemudian secara online berhubungan dengan
penggunaan sumber daya jaringan dalam mengakses sumber materi pembelajaran,
seperti menggunakan media web (web-based) untuk mengakses course-course
yang telah disusun secara sistematik, chatting dan forum untuk
proses kolaborasi dan komunikasinya. Selain itu sistem pembelajaran elektronik
juga menyediakan fitur evaluasi dalam mengukur tingkat pengertian dari setiap
pelajar, yang berguna dalam menilai tingkat kapabilitas seorang individu.
- Pengertian Knowledge Management
Pengetahuan merupakan
hal yang sangat mendasar dari setiap manusia. Untuk itu setiap manusia pasti
memiliki yang namanya pengetahuan. Namun, yang menjadi kendala adalah manusia
menyadari apa yang mereka alami dalam kehidupannya masing-masing tetapi tidak
dapat membuat pengetahuan tersebut menjadi terstruktur sehingga dapat digunakan
kembali (reusable). Inilah perbedaan yang mendasar antara tacit dan explicit
knowledge.
Pada dasarnya setiap
manusia memiliki tacit knowledge. Tacit knowledge itu
sendiri adalah pengetahuan yang melekat pada pengalaman masing-masing individu
dan melibatkan faktor-faktor intangible, seperti perspektif
masing-masing individu, keyakinan yang dimiliki setiap individu, dan penilaian
terhadap sesuatu yang berbeda-beda dari masing-masing individu. Tacitknowledge ini
sangat sukar untuk di-artikulasi (dikeluarkan/distrukturisasi) ke dalam bentuk
yang lebih formal. Tacit knowledge ini terdiri dari sudut
pandang, pemikiran, dan intuisi dari masing-masing individu dalam pandangan
mereka terhadap suatu objek, jadi tacit knowledgemerupakan
pengetahuan berdasarkan dari sisi subjektif si individu. Sebelum tacit
knowledgedapat digunakan kembali dan disebarluaskan untuk dikomunikasikan,
terlebih dahulu tacit knowledge ini harus dibentuk
menjadi explicit knowledge.
Explicit knowledge merupakan pengetahuan yang dapat di-artikulasi ke dalam bentuk yang
lebih terstruktur atau formal. Pengetahuan jenis explicit knowledge ini
berupa buku pedoman (manual), dokumentasi pelajaran, ekspresi matematika
dan dapat di-komunikasikan dan di sebarluaskan ke setiap individu lainnya.
Dengan mudahnya di-komunikasikan, maka pengetahuan jenis explicit
knowledge ini, dapat dengan mudah pula untuk di proses oleh komputer
dan disebarluaskan melalui media elektronik maupun disimpan ke dalam database.
- Knowledge Management dalam Kaitannya dengan E-learning pada Organisasi
Di dalam membangun
suatu knowledge management diperlukan suatu strategi yang
dapat mencapai untuk meng-capture knowledge. Ada tiga aspek yang
menjadi hal penting di dalam membangun suatu strategi untuk knowledge
management:
a.
People, merupakan aspek yang utama dalam kontribusinya terhadap knowledge
management. Peran dari people disini sangat penting untuk
memberikan kontribusi sebagai penghasil knowledge itu sendiri
dan penyebar knowledge. Jika aspek manusia tidak diperhatikan
dengan baik, yang mana artinya menggerakkan aspek manusia sebagai pendukung
utama, maka knowledge management akan mengalami kegagalan
dalam praktiknya. Ini dikarenakan tujuan knowlede management itu
sendiri tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari faktor manusianya
(manusia adalah knowledge itu sendiri /knowledge generator).
b.
Process, hal kedua ini adalah salah satu bagian dari knowledge management
stategy. Proses merupakan hal yang berhubungan dengan proses pengambilan (capture)
nilai-nilai pengetahuan ke dalam suatu media dan kemudian di-distribusikan ke
setiap individu lainnya untuk digunakan kembali, “Transfer knowledge”.
Technology, merupakan aspek ketiga yang menjadi sebuah alat
dalam mendukup unsur people maupunprocess berjalan
dengan benar. Aspek teknologi merupakan sebuah enabler terjadi
suatu pengelolaan pengetahuan, seperti sebagai alat untuk mengatur
pengetahuan-pengetahuan yang masuk, menyimpan pengetahuan yang dimasukkan
kedalam suatu sistem knowledge management. Jika aspek teknologi
hanya berdiri sendiri maka keberhasilan dari suatu knowledge management tidak
akan tercapai, dikarenakan unsur teknologi hanya sebagai suatu alat pendukung
terjadi proses transmisi pengetahuan dan pendukung penyebarluasan dan
pengetahuan dari unsur manusia (people). Artinya unsur teknologi tidak
dapat berdiri sendiri tanpa adanya kedua unsur lainnya.
Dari unsur-unsur strategi diatas, jika
dikaitkan dengan e-learning maka setiap unsur tersebut
mempunyai kesamaan terhadap pengaplikasian e-learning itu sendiri di dalam
suatu organisasi.
Pada suatu organisasi yang ingin
menggerakkan proses pembelajaran melalui media elektronik (e-learning), maka
diperlukan suatu upaya dalam memberdayakan proses pembelajaran di dalam
organisasi. Proses pembelajaran harus dapat dibuat se-efektif mungkin agar
semua area fungsional di dalam organisasi dapat memberikan kontribusi terhadap
suksesnya aliran pengetahuan dan terciptanya suasana learning
organization yang diharapkan organisasi agar setiap karyawan dapat
mengakuisisi pengetahuan-pengetahuan yang ada dan meningkatkan kompetensinya.
Untuk memulai suatu proses pembelajaran
harus dimulai dari people. Unsur manusia disini maksudnya adalah
organisasi harus dapat memberlakukan suatu behaviour baru di
dalam organisasi. Pada umumnya karyawan-karyawan yang ada pada suatu organisasi
sudah berada dalam suatu zona yang disebut sebagai zona aman (“comfort zone”).
Zona aman ini, sangat berpengaruh terhadap budaya karyawan di dalam organisasi,
maksudnya disini adalah setiap karyawan hanya menjalankan fungsi-fungsinya di
dalam aktivitas operasional organisasi sehari-hari dan begitu seterusnya tanpa
mempunyai suatu intuisi untuk berkeinginan lebih maju / berubah dari suatu
kondisi ke kondisi lain yang lebih baik tentunya. Mereka hanya mengetahui apa
yang menjadi kerjaan mereka saat ini tanpa adanya suatu indikasi yang
mengharuskan mereka meningkatkan kompetensinya untuk memperbaiki kinerja
organisasi dan meningkatkannya dalam bersaing di lingkungan yang sifatnya
semakin dinamis saat ini. Permasalahan zona aman inilah yang menjadi kendala
dalam setiap organisasi untuk mengembangkan proses pembelajarannya. Oleh karena
itulah, knowledge management dibuat dengan dimulai dari aspek
pertama, yaitu people. Perubahan budaya (behaviour and culture)
dalam organisasi harus digerakkan dengan gencar agar setiap proses pembelajaran
dapat terlaksana sejalan dengan keinginan organisasi. Perubahan pola pikir (mindset)
dari setiap karyawan di dalam organisasi sangat penting dilakukan, mereka harus
diberi pengetahuan tentang perlunya perubahan budaya dalam menanggapi perubahan
lingkungan saat ini yang semakin dinamis. Pengertian inilah yang harus
didapatkan oleh setiap karyawan agar mereka mau bergerak dari “zona aman” ke
arah perubahan budaya organisasi, yaitu budaya belajar.
Kemudian hal yang kedua
dalam knowledge management adalah menciptakan proses transmisi
pengetahuan dalam organisasi, sehingga organisasi dapat menangkap setiap
pengetahuan yang melintas di dalamnya. Penciptaan suatu proses ini penting
untuk dilakukan agar para karyawan dapat dengan tepat menyalurkan/membagi
pengetahuan maupun berkolaborasi dan berkomunikasi dengan karyawan lainnya
dengan mudah, sehingga proses transmisi pengetahuan (“transfer knowledge”)
dapat tercapai. Tentunya hal ini diperlukan bantuan teknologi informasi sebagai
media pendukung dalam melaksanakan bagian kedua ini (process). Teknologi
yang ada harus dapat memfasilitasi setiap pertukaran knowledge di
dalam organisasi, baik itu berupa sebagai media penyimpan (storage)
maupun sampai pada proses untuk mendapatkan kembali (retrieval)
pengetahuan tersebut agar dapat digunakan kembali oleh individu lainnya, serta
teknologi harus dapat memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi di dalam
organisasi.
- TANTANGAN DALAM MENGGERAKKAN E-LEARNING PADA ORGANISASI
Pada praktiknya di
dalam organisasi tidak semudah yang dibayangkan, justru kendala terbesar dalam
menggerakkan e-learning bukan terletak pada teknologi yang dimiliki maupun
proses pengelolaan pengetahuan yang ada pada organisasi. Kendala terbesar
ternyata terletak pada aspek manusianya (people). Untuk membuat proses
pembelajaran online berhasil sesuai dengan tujuan dari
organisasi maka perlu dilaksanakan pembudayaan proses belajar bagi setiap
individu di dalam organisasi. Merubah paradigma dari masing-masing individu
merupakan hal yang sulit dilakukan karena setiap individu manusia mempunyai
hambatan kekhawatiran terhadap masa depannya. Pada umumnya para karyawan,
berpendapat jika pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dimasukkan ke dalam
suatu sistem dan dapat digunakan kembali maka keberadaan mereka di dalam
organisasi akan terancam. Selain itu budaya yang ada di dalam organisasi
(terlepas dari rasa terancam) adalah ‘comfort zone’ seperti yang sudah
dijelaskan diatas sebelumnya, rasa aman yang dimiliki oleh setiap orang (people)
membuat sulit untuk meresponi perubahan yang terjadi diluar yang semakin
dinamis. Untuk itu organisasi harus mencari cara dalam menggerakkan unsur
manusianya.
Saat ini tingkat
manajerial harus membuat suatu regulasi yang mengharuskan setiap karyawan di
dalam organisasi untuk menjalankan proses pembelajaran dengan fasilitas online yang
telah disediakan oleh organisasi. Setiap karyawan yang ada dibuat terbiasa
untuk menyumbangkan setiap pengetahuan yang dimilikinya untuk kepentingan
organisasi, selain itu juga harus diberikan pengertian yang mendalam pentingnya
menyukseskan pembelajaran di dalam organisasi yang mana berguna untuk mereka
sendiri dalam meningkatkan kompetensi masing-masing. Pernyataan mengenai
kompetensi ini harus disampaikan kepada setiap karyawan bahwa sangat berguna
untuk dimiliki mereka agar dapat mengembangkan diri untuk meresponi tantangan
jaman di era yang semakin tinggi dalam persaingan.
Dengan membiasakan
budaya belajar dalam organisasi maka kesuksekan dari aktivitas e-learning tersebut
akan berhasil. Hal ini bermanfaat untuk pencapaian tujuan organisasi mengenai
perspektif pembelajaran dalam organisasi untuk menjawab setiap perubahan yang
ada di lingkungan luar organisasi, sehingga menjadi keunggulan kompetitif
organisasi.
Pada proses
pembelajara (learning) ada dua pemain yang merupakan bagian penting di
dalamnya. Pertama adalah pelajar (student/pupil) itu sendiri dan yang
kedua adalah pengajar (teacher). Kedua pemain tersebut memegang peranan
penting untuk terciptanya proses belajar dan mengajar. Untuk sisi pengajar
berperan dalam memberikan bantuan kepada pelajar agar dapat memahami dari
materi yang sedang dipelajari, sedangkan dari sisi pelajar adalah kemampuan
mengakuisisi bahan materi yang disampaikan dari objek yang dipelajari (learning
object).
Dari penjelasan
diatas, maka suatu learning management system bertujuan untuk
memindahkan proses belajar dan mengajar tersebut ke dalam media
elektronik computer-based. Peran pengajar di-otomatisasi sehingga
dapat memberikan proses pengajaran kepada pelajar, sedangkan pelajar hanya
perlu masuk kedalam suatu single portal untuk mengakses materi
pembelajaran (learning object) yang dituju. Maksudnya disini adalah pada
saat seorang pelajar ingin mengakseslearning object yang dituju (content)
maka pelajar hanya perlu masuk ke dalam suatu portal dan mengakses course yang
telah disediakan secara lengkap yang berisikan bahan-bahan materi,
pengkategorian materi, target penyelesaian kursus, dan evaluasi hasil belajar.
Dengan begitu berarti
suatu learning management system terdiri dari beberapa modul,
meliputi :
a.
Student / pupil
information module, berisikan tentang profil tentan
pelajar yang sedang mengambil course untuk belajar. Terdiri
dari informasi pribadinya , kesulitan yang dihadapi dalam pemahaman materi
dari course yang dipilih dan hasil dari evaluasi belajar yang
dilakukannya dan tingkat keberhasilan mengakuisisi dari knowledge tersebut
(level of achievement).
b.
Teacher information
module, berisikan tentang profil pengajar yang
dapat dijadikan sumber informasi bagi para pelajar untuk mencari fasilitator
terhadap pemecahan suatu kendala pemahaman materi pembelajaran yang dihadapi
oleh pelajar. Sumber informasi dari setiap pengajar (teacher) dapat
membantu para pelajar untuk mengetahui kompetensi dari setiap pengajar yang ada
untuk mengetahui pengajar (teacher) yang dapat membantu permasalahan
pelajar (pupil) . Profil untuk modul pengajar, meliputi profil pribadi
pengajar dan kompetensi yang dimilikinya.
c.
Content module, merupakan bahan-bahan materi pembelajaran yang menjadi tujuancourse dari
para pelajar. Di dalam modul content ini, mempunyai tiga sub
modul, meliputiknowledge base, lesson learned, dan yellow
pages (Andrade , 2003). Sub modul yang pertama knowledge base :
merupakan inti dari e-learning , karena berisikan tentang
bahan materi pembelajaran yang digunakan untuk proses pembelajaran (course-spesific
content). Sub modul yang kedua adalah lesson learned ,
bagian dimana berisikan pengalaman belajar dari pihak pupil maupun teacher terkait
pehamanannya terhadap materi pembelajaran yang ada pada knowledge base.
Di dalam sub modul ini, bukan hanya menggambarkan petunjuk terhadap pemahaman
dari materi yang dipelajari, namun juga tingkat kesalahan dialami oleh pupil dalam
pengaplikasian pengetahuan yang telah dipelajarinya. Pada modul ini berisikan
evaluasi (pengukuran) hasil belajar, seperti quiz, komunikasi dan
kolaborasi dua arah antar pupil maupun dengan pengajar.
Kemudian sub modul yang ketiga adalah yellow pages, yang dimaksud
disini bukannlah metode pencarian terhadap knowledge tertentu,
namun lebih kepada sebagai alat bantu bagi setiap pelajar untuk mencari
pengajar yang sesuai dan dapat membantu menyelesaikan kesulitan dalam proses
belajar para pelajar dan juga sebagai alat pencarian terhadap resourceslainnya
dalam menggali pelajaran dari course-spesific tersebut.
Pencarian terhadapresource lainnya dalam e-learning meliputi
seperti class note , lalu referensi buku-buku yang dapat
digunakan sebagai bahan materi belajar, dan lainnya.
- KONVERGENSI ANTARA KNOWLEDGE MANAGEMENT DENGAN E-LEARNING DI DALAM ORGANISASI
E-learning menyediakan
fasilitas dalam pembentukan kompetensi sumber daya manusia (utilization of
human capital). Fasilitas yang diperlukan dalam membangun kapabilitas
sumber daya manusia, diperlukan pertimbangan terhadap pemberdayaan tingkat
kompetensi sumber daya manusia (utilization of human capital). Sedangkan
di sisi lain,knowledge management digunakan sebagai kontrol
terhadap knowledge yang berlalu-lintas di dalam organisasi.
Kontrol yang dimaksud, meliputi : peng-kategorian, pengelolaan, penyimpanan ,
sampai pada pendistribusian knowledge di dalam organisasi.
Berangkat dari penjelasan
diatas, maka kedua hal tersebut antara e-learning danknowledge
management mempunyai kesamaan dalam proses pembelajaran di dalam
organisasi (learning organization). E-learning mengharuskan
adanya proses belajar untuk mengembangkan kompetensi individu dari
masing-masing karyawan , sedangkanknowledge management sebagai alat
kontrol dari setiap knowledge tersebut untuk dikelompokkan.
Selanjutnya skenario
pembelajaran tersebut akan digunakan atau dikonsumsi oleh pelajar. Dari
aktivitas konsumsi pembelajaran pada e-learning, maka dengan
sendirinya akan membentuk komunitas. Komunitas ini terdiri dari para pelajar
(karyawan) tersebut. Komunitas inilah yang nantinya akan membangun proses
komunikasi dan kolaborasi dalam e-learning agar terciptanya penyebaran
pengetahuan yang lebih cepat dan detil. Semakin kaya komunitas e-learning pada
organisasi , berarti penyebaran pengetahuan akan semakin lebih banyak dan knowledge yang
dimiliki organisasi lebih banyak lagi dan lebih responsif terhadap perubahan di
lingkungan luar organisasi dalam menjawab kebutuhan akan intellectual
capital.
- ASPEK-ASPEK DARI KONVERGENSI ANTARA KNOWLEDGE MANAGEMENT DENGAN E-LEARNING
Mengenai konvergensi
antara knowledge management dengan e-learning maka salah satu
yang perlu dibicarakan adalah mengenai aspek-aspek yang terkait di dalamnya.
Dalam e-learning, aspek yang menjadi bagian utamanya adalah resoure / content danprocess / educational-social.
Sedangkan aspek yang terdapat pada knowledge management ,
meliputi :
a. Knowledge category models
b. Knowledge flows
c.
Knowledge
representation
d. Knowledge processes life cycle models
e.
Community / Social capital
Di dalam aspek resources / content pada e-learning,
meliputi hal-hal seperti :
a.
materi yang ada dalam
sistem e-learning. Semakin detil sistem pencarian dan tingkat
densitas (detil) dari sistem pencariannya, maka sistem pembelajaran akan
semakin lebih baik lagi.
b.
Learning
adoption : berhubungan dengan tingkat pemahaman yang diadopsi oleh pelajar
Suatu permulaan dari
interaksi antara knowledge management dengan e-learning,
dimulai dari unsur knowledge management. Maka dalam sebuah
pengakusisianknowledge dengan media e-learning sebagai
fasilitatornya harus berdasarkan pendekatan dari sisi knowledge
management. Pendekatan knowledge management ini memiliki
lima komponen seperti yang telah dijabarkan sebelumnya.
Suatu knowledge yang
masuk ke dalam maka akan dilakukan peng-kategorian.Knowledge tersebut
masuk ke dalam sistem dan dibuat aliran dari grup atau kategori-kategori yang
ada menjadi bentuk yang sistematis, sehingga aliran dari knowledgetersebut
jelas penggunaannya. Hal ini berhubungan dengan course-course yang
dibuat sesuai dengan kategori-kategori knowledge yang ada
dalam organisasi. Kemudian dariflow tersebut, maka suatu materi
belajar (knowledge) perlu di-presentasikan melalui suatu portal dan
digunakan oleh karyawan. Dalam proses pengakuisisian dariknowledge-knowledge tersebut,
maka content yang ada di dalam e-learning dibuat
kedalam desain yang lebih tersetruktur (instruksional) , lalu
menggerakkan peole untuk menggunakannya dan terjadilah
aktivitas-aktivitas pembelajaran yang diakuisisi oleh pelajar sehingga
membentuk komunitas belajar pada e-learning. Media e-learning yang digunakan
dalam organisasi juga bermacam-macan, meliputi : text-based, audio
& video, conference.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar